Bulughulmaram : Nikah : Hadis-hadis nikah Bahagian 4

Salam, post ini mengandungi video pengajian Kitab Bulughulmaram Bab Hadis-hadis nikah Bahagian 4.

Video Bulughulmaram Hadis-hadis nikah Bahagian 4

Bagi pengguna desktop, video akan terus ke hadis yang dimaksudkan. Bagi pengguna mobile, video akan dimainkan dari mula.
Video hadis mula pada 00:00:01



Senarai hadis Bulughulmaram : Nikah : Hadis-hadis nikah Bahagian 4

Mengumumkan pernikahan

Hadis dalam bahasa arab
َوَعَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ اَلزُّبَيْرِ , عَنْ أَبِيهِ ; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( أَعْلِنُوا اَلنِّكَاحَ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Hadis dalam bahasa Malaysia
Dari Amir bin Abdillah bin Zubair, dari bapanya: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Umumkanlah pernikahan.” Riwayat Ahmad. Sahih seperti ditetapkan oleh Hakim.

Hadis dalam bahasa Indonesia
Dari Amir Ibnu Abdullah Ibnu al-Zubair, dari ayahnya Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sebarkanlah berita pernikahan." Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Hakim.


Tidak sah pernikahan tanpa wali

Hadis dalam bahasa arab
َوَعَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى , عَنْ أَبِيهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ اَلْمَدِينِيِّ , وَاَلتِّرْمِذِيُّ , وَابْنُ حِبَّانَ , وَأُعِلَّ بِالْإِرْسَالِ

Hadis dalam bahasa Malaysia
Dari Abu Burdah bin Abu Musa, dari bapanya, katanya: Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sah pernikahan tanpa wali.” Riwayat Ahmad dan Empat Ahli Hadis.

Hadis dalam bahasa Indonesia
Dari Abu Burdah Ibnu Abu Musa, dari ayahnya Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak sah nikah kecuali dengan wali." Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Ibnu al-Madiny, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Sebagian menilainya hadits mursal.


Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali dan dua orang saksi

Hadis dalam bahasa arab
وَرَوَى اْلإِمَامُ أَحْمَدُ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عِمْرَانَ ابْنِ الْحُصَيْنِ مَرْفُوْعًا ( لاَنِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْنِ

Hadis dalam bahasa Malaysia
Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Imran bin Husain hadis tersebut di atas secara marfu', katanya: “Tidak sah pernikahan, kecuali dengan wali dan dua orang saksi.”

Hadis dalam bahasa Indonesia
Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu' dari Hasan, dari Imran Ibnu al-Hushoin: "Tidak sah nikah kecuali dengan seorang wali dan dua orang saksi."


Sultan menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali

Hadis dalam bahasa Arab
َوَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَيُّمَا اِمْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا, فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ, فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا اَلْمَهْرُ بِمَا اِسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا, فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ, وَصَحَّحَهُ أَبُو عَوَانَةَ , وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Hadis dalam bahasa Malaysia
Dari Aisyah, katanya: Rasulullah SAW bersabda: “Seorang wanita bila ia menikah dengan tanpa izin walinya, maka nikahnya batal dan seorang lelaki yang mencampurinya, maka ia wajib membayar maharnya kerana ia telah menghalalkan kehormatan perempuan itu. Dan jika mereka berselisih (antara para wali), maka sultanlah yang menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali.” Riwayat Empat Ahli Hadis kecuali Nasa'i.

Hadis dalam bahasa Indonesia
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Perempuan yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil. Jika sang laki-laki telah mencampurinya, maka ia wajib membayar maskawin untuk kehormatan yang telah dihalalkan darinya, dan jika mereka bertengkar maka penguasa dapat menjadi wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali." Dikeluarkan oleh Imam Empat kecuali Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Uwanah, Ibnu Hibban, dan Hakim.


Meminta persetujuan terlebih dahulu kepada janda atau gadis yang akan dinikahi

Hadis dalam bahasa arab
َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا تُنْكَحُ اَلْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ, وَلَا تُنْكَحُ اَلْبِكْرُ حَتَّى تُسْـتَأْذَنَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اَللَّهِ , وَكَيْفَ إِذْنُهَا ? قَالَ : أَنْ تَسْكُتَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Hadis dalam bahasa Malaysia
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Janda tidak boleh dinikahi sebelum dia diajak bermusyawarah dan seorang gadis tidak boleh dinikahi sebelum diminta persetujuannya.” Lalu para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana persetujuan gadis itu?” Sabdanya: “Apabila ia diam.” Riwayat Bukhari dan Muslim.

Hadis dalam bahasa Indonesia
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diajak berembuk dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta izinnya." Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya? Beliau bersabda: "Ia diam." Muttafaq Alaihi.


Seorang janda berhak ke atas dirinya daripada seorang wali dan seorang gadis diminta persetujuan terlebih dahulu

Hadis dalam bahasa arab
وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ( اَلثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا , وَالْبِكْرُ تُسْتَأْمَرُ , وَإِذْنُهَا سُكُوتُهَا ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي لَفْظٍ : ( لَيْسَ لِلْوَلِيِّ مَعَ اَلثَّيِّبِ أَمْرٌ, وَالْيَتِيمَةُ تُسْتَأْمَرُ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ , وَالنَّسَائِيُّ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Hadis dalam bahasa Malaysia
Dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Seorang janda lebih berhak ke atas dirinya daripada walinya dan seorang gadis dimintai persetujuan lebih dahulu dan persetujuannya adalah diamnya.” Riwayat Muslim

Hadis dalam bahasa Indonesia
Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Seorang janda lebih berhak menentukan (pilihan) dirinya daripada walinya dan seorang gadis diajak berembuk, dan tanda izinnya adalah diamnya." Riwayat Imam Muslim. Dalam lafaz lain disebutkan, "Tidak ada perintah bagi wali terhadap janda, dan anak yatim harus diajak berembuk." Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.


Perempuan tidak boleh menikahkan perempuan

Hadis dalam bahasa arab
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا تُزَوِّجُ اَلْمَرْأَةُ اَلْمَرْأَةَ, وَلَا تُزَوِّجُ اَلْمَرْأَةُ نَفْسَهَا ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَهْ , وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ , وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ

Hadis dalam bahasa Malaysia
Dari Abu Hurairah , katanya: Rasulullah SAW bersabda: “Perempuan tidak boleh menikahkan perempuan dan perempuan tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Riwayat Ibnu Majah dan Daraquthi.

Hadis dalam bahasa Indonesia
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Perempuan tidak boleh menikahkan perempuan lainnya, dan tidak boleh pula menikahkan dirinya." Riwayat Ibnu Majah dan Daruquthni dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya.


Larangan pernikahan syighar

Hadis dalam bahasa arab
وَعَنْ نَافِعٍ , عَنْ اِبْنِ عُمَرَ قَالَ : ( نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الشِّغَارِ ; وَالشِّغَارُ: أَنْ يُزَوِّجَ اَلرَّجُلُ اِبْنَتَهُ عَلَى أَنْ يُزَوِّجَهُ اَلْآخَرُ اِبْنَتَهُ , وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا صَدَاقٌ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاتَّفَقَا مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَلَى أَنَّ تَفْسِيرَ اَلشِّغَارِ مِنْ كَلَامِ نَافِعٍ

Hadis dalam bahasa Malaysia
Dari Nafi, dari Ibnu Umar, katanya: “Rasulullah SAW melarang pernikahan syighar.” Syighar iaitu seorang lelaki mengahwinkan anak perempuannya dengan syarat lelaki lain mengahwinkan anak perempuan kepada dirinya dan antara keduanya tidak ada mas kahwin.”

Hadis dalam bahasa Indonesia
Nafi' dari Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang perkawinan syighar. Syighar ialah seseorang menikahkan puterinya kepada orang lain dengan syarat orang itu menikahkan puterinya kepadanya, dan keduanya tidak menggunakan maskawin. Muttafaq Alaihi. Bukhari-Muslim dari jalan lain bersepakat bahwa penafsiran "Syighar" di atas adalah dari ucapan Nafi'.


Perempuan yang dinikah secara paksa dengan lelaki lain yang tidak disukainya berhak untuk membatalkan pernikahannya

Hadis dalam bahasa arab
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( أَنَّ جَارِيَةً بِكْرًا أَتَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَتْ: أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ , فَخَيَّرَهَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَأَبُو دَاوُدَ , وَابْنُ مَاجَهْ , وَأُعِلَّ بِالْإِرْسَالِ

Hadis dalam bahasa Malaysia
Dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya seorang gadis datang kepada Nabi SAW, lalu ia menceritakan bahawa bapanya telah mengahwinkannya, padahal ia tidak menyukainya. Lalu Rasulullah SAW memberikan hak kepada anak perempuan itu untuk memilih. Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah

Hadis dalam bahasa Indonesia
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa ada seorang gadis menemui Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lalu bercerita bahwa ayahnya menikahkannya dengan orang yang tidak ia sukai. Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memberi hak kepadanya untuk memilih. Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Ada yang menilainya hadits mursal.


Perempuan yang dinikahkan oleh dua orang wali

Hadis dalam bahasa arab
وَعَنْ اَلْحَسَنِ , عَنْ سَمُرَةَ , عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( أَيُّمَا اِمْرَأَةٍ زَوَّجَهَا وَلِيَّانِ , فَهِيَ لِلْأَوَّلِ مِنْهُمَا ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَالْأَرْبَعَةُ , وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ

Hadis dalam bahasa Malaysia
Dari Hasan, dari Samurah, dari Nabi SAW sabdanya: “Seseorang perempuan yang dinikahkan oleh dua orang wali maka yang lebih dahulu menikahkannya itulah yang sah pernikahannya.” Riwayat Ahmad dan Empat Ahli Hadis

Hadis dalam bahasa Indonesia
Dari Hasan, dari Sumrah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Seorang perempuan yang dinikahkan oleh dua orang wali, ia milik wali pertama." Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits hasan menurut Tirmidzi.

Mengenai Kitab Bulugh Al Maram

Bulughul Maram atau Bulugh al-Maram min Adillat al-Ahkam, disusun oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (773 H - 852 H). Hadis-hadis ini diriwayat oleh tujuh Imam dalam ilmu hadis iaitu Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzy, Nasa'i dan Ibnu Majah. Ibnu Hajar menggunakan istilah tertentu dalam penyebutan yang mengeluarkan hadits (mukharrij) yakni:
(Riwayat 7 imam Hadis) Rowahu as-Sab'ah untuk hadits yang diriwayatkan oleh tujuh Imam dalam ilmu Hadits, yaitu Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzy, Nasa'i dan Ibnu Majah
(Riwayat 6 imam Hadis) Rowahu as-Sittah untuk hadits yang diriwayatkan oleh tujuh Imam selain Ahmad
(Riwayat 5 imam Hadis) Rowahu al-Khamsah untuk hadits yang diriwayatkan oleh tujuh Imam selain Bukhari-Muslim
(Riwayat 4 imam Hadis) Rowahu al-Arba'ah untuk hadits yang diriwayatkan oleh tujuh Imam selain Ahmad, Bukhari dan Muslim
(Riwayat 3 imam Hadis) Rowahu ats-Tsalitsah untuk hadits yang diriwayatkan oleh tujuh Imam selain Ahmad, Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah
(Riwayat 2 imam Hadis) Muttafaqun 'alaih untuk hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim.

Semoga bermanfaat. Segala yang baik daripada Allah dan kekurangan daripada diri saya sendiri. Sebarang maklumbalas sila hubungi email norazizahtrading@gmail.com

Rujukan:
1. Bulughul Maram Terjemahan Indonesia Alquran-sunnah.com
2. Terjemahan Bulughul Maram – Pedoman mencapai hajat
3. Youtube Official Ustadz Khalid Basalamah

Senarai post berkaitan Bulughulmaram

Kitab Nikah Bab Hadis-hadis nikah Bahagian 1
Kitab Nikah Bab Hadis-hadis nikah Bahagian 2
Kitab Nikah Bab Hadis-hadis nikah Bahagian 3
Kitab Nikah Bab Hadis-hadis nikah Bahagian 4